Articles » Disaat Belajar Menjadi "Butuhnya" Orangtua

By Yudith Kusumowardani

Seringkali kita sebagai orangtua mengeluhkan mengapa anak anak begitu sulitnya belajar.Sudah diingatkan,disuruh bahkan dipaksa sampai kita ikut duduk dihadapannya demi menemani anak belajar. Bahkan banyak orangtua "rela" membatalkan seluruh kegiatannya dengan mengatakan "nemenin anak belajar,kan mau ulangan". Meskipun banyak juga yg ikhlas dibibir tapi "gondok" mesti nongkrongin anaknya yang mau ulangan hihihi. Salah siapa dong? Memangnya si anak minta ditungguin? Kan maunya kita sendiri :)


Lalu bagaimana dong caranya supaya anak anak mau belajar dan mengerjakan tugas sekolah tanpa kita kejar-kejar,ataupun dipaksa"? Yuk kita bahas. Coba deh sekali-kali saat kita menyuruh anak belajar, jangan lupa ambil cermin (sstt jangan sampai ada orang lain yang liat.Ngeri ;)) Dahi berkerut,mata melotot,bibir gak berhenti komat kamit.. Belum suara kita yang melengking..Yang lebih mirip "nenek sihir"...Hiiiyyyyy Siapa yang mau berhadapan dengan "monster"?


Ayah dan Bunda sayang...
Ketahuilah bahwa cara berpikir anak anak adalah enak vs tidak enak, jadi kalau menurut mereka hal itu tidak enak untuk dilakukan ya mereka tidak akan lakukan. Berbeda dengan kita orang dewasa -bukan orangtua ya..karena tua belum tentu dewasa dan anak anak belum pasti tidak dewasa :)) - yang sudah berpikir perlu vs tidak perlu, seperti harus bangun pagi untuk bekerja, yang sebenarnya kan tidak enak, tapi karena kita pikir hal itu perlu jadi harus kita lakukan.

 

Kalau begitu..Apakah BELAJAR dan MENGERJAKAN TUGAS itu sesuatu yang TIDAK ENAK bagi anak? Jawabannya adalah "YA atau TIDAK", enak apabila dikemas dengan asik, menyenangkan, penuh keseruan, bisa sambil tiduran, boleh sambil dipeluk bunda, sesekali dikasih ciuman pipi,atau sambil ngemil makanan kesayangan, bahkan bisa dilakukan ditaman dekat rumah jika memungkinkan. Tidak enak kalau belajar diteriakin, dipaksa, ditungguin, dimarahin bahkan dimaki kalau belum paham, dicemberutin atau bahkan dipukul :(. 


Tungguuuuuu! Kalau tidak boleh "dipaksa" mana mungkinnnn, mana bisaaa? Jawabannya, MUNGKIN! Gimana dong caranya? Caranya, pertama dengan cara-cara diatas membuat belajar menjadi menyenangkan. Kedua dengan cara orangtua mengkondisikan bahwa belajar dan mengerjakan tugas sebagai "perlunya anak,bukan orangtua".
 

Coba deh kita pikir...Niat kita nyekolahin anak sebenarnya untuk apa? Apakah biar orangtuanya pintar? Tidak juga kan ! Semua demi anak. Padahal, pada dasarnya anak tidak membutuhkan sekolah. Dia hanya butuh orangtua untuk belajar. Tapi karena keterbatasan orangtua, maka orangtua membutuhkan lembaga yang bernama sekolah. Jadi, tugas kita sebagai orangtua membuat anak butuh belajar untuk dirinya, bagaimana?
 

Buatlah kesepakatan dengan anak bahwa urusan belajar mengajar di sekolah adalah urusan anak dengan guru gurunya.Orangtua tidak ikut campur dalam arti menjadi bumper anak. Jika anak ada PR, biarkan menjadi urusannya dengan guru dan sekolah. Kalau dia butuh bisa pasti dikerjakan. Kalau dia gak mau mendapat sanksi pasti menyelesaikan. Kalau dia tau dia tidak mengerjakan dan menyelesaikan akan mendapat sanksi. Tapi jika orangtua menjadi bumper anak dengan mengambil alih tugas anak, membantu atau mengerjakannya, pertanyaanya, kapan anak sadar bahwa disetiap tindakan terdapat resiko yang harus dia hadapi. Anak tidak akan pernah tahu rasanya malu mendapat nilai jelek. Anak tidak akan pernah sadar rasanya dapat sanksi karena orangtua selalu membumperi atau pasang badan demi melindungi anaknya.
 

Namanya juga orangtua pasti ingin melindungi anaknya. Tentunya ini tidak salah,tapi coba tanya dalam hati "sampai kapan Allah swt kasih kita umur, apakah 24 jam kita bisa selalu bersama kita, apakah selamanya anak bisa mengandalkan orang lain?" 
 

Ayah Bunda, keterampilan anak-anak untuk mandiri dan bertanggungjawab tidak serta merta terbentuk. Hal demikian butuh kita asah dan kita beri kesempatan. Dan dalam segala aspek kehidupan diperlukan namanya "proses belajar" untuk pada akhirnya memberikan hasil yang luar biasa. Siapa lagi yang harus mengasah kemampuan anak dan memberi kesempatan kepada mereka jika bukan kita orangtuanya? Selamat belajar Ayah Bunda. @udith_raya

Tuesday 2 September 2014 09:28 Bookmark and Share