Articles » Bersahabat Dengan Era Digital

By Edi Slamet

Beberapa tahun belakang ini kita digempur terus menerus dengan media digital yang berbasis pada teknologi internet. Facebook, twitter, path, instagram, youtube, google dan masih banyak lagi. Rasanya ketika tidak membuka atau mengakses media media tersebut, ada sesuatu yang hilang, apalagi saat ini dimudahkan oleh gadget yang cangging dan juga jaringan data yang sudah cukup baik, meskipun jika dibanding dengan negara tetangga negeri ini terasa masih sangat jauh dibelakang.

Dampak dari perkembangan IT (informasi teknologi) ini sungguh luar biasa, hampir-hampir bisa dikatakan semua bisa kita lakukan, 15 tahun yang lalu seorang siswa, mahasiswa ataupun guru dan dosen  jika ingin mengetahui informasi, harus lihat televisi atau membaca koran itupun sudah berita atau informasi basi. Dan jika ingin memperdalam teori dan menemukan fakta-fakta mereka harus bergegas ke perpustakaan untuk segera mendapatkannya. Tetapi, saat ini sudah tidak “jaman” lagi, sekedar untuk mendapatkan berita terkini dan detik ini, tinggal buka smartpone lalu klik, langsung tahu. Begitu pula ketika kita harus mendapatkan teori-teori lama mapun baru cukup dengan “google book” semua sudah tersaji.

Begitu pula soal berteman, beberapa tahun yang lalu, untuk mencari teman-teman lama waktu SD atau SMP, kita harus buka data base dan kemudian kita pilah satu-satu, kemudian kirim surat atau jika sudah ada telpon kita tinggal hubungi. Bisa dibayangkan pada waktu itu, untuk curhat saja begitu sulit dan berbiaya mahal. Saat ini, murah meriah lewat facebook, google plus, twitter, dan sejenisnya. Teman waktu SMA, bahkan waktu TK pun kita bisa dapatkan hanya dengan media-media tersebut. Bila hanya sekedar curhat cukup gerakkan “jempol” langsung bisa direspon oleh banyak teman. Begitu juga sebaliknya kita dengan mudahnya mersepon informasi dan curhatan kawan-kawan kita yang tempat tinggalnya antah brantah.

Semua terasa begi mudah saat ini, tetapi ketika tidak bijak dan tidak memiliki pondasi yang kuat, kita akan menjadi konsumen dan bahkan akan tenggelam oleh arus, tanpa bisa memberi warna. Era abad 21, IT adalah hal sangat dominan, tetapi perlu diingat IT itu hanya tools alias alat belaka, bukan sebuah tujuan. Artinya, jiwa adalah utama maka setiap pengguna harus diisi dengan jiwa yang kuat, sehingga alat-alat itu bisa berdaya guna dengan baik. Lihat kasus terakhir Flo seorang mahasiswi di Jogja harus berurusan polisi hanya karena lupa mengisi jiwanya, dengan marah-marah di dalam akun media sosialnya.

Lantas apa yang perlu diisi, tentu pertama adalah sikap kritis, kritsisisme itu akan menjadikan kita lebih waspada. Bayangkan dalam satu jam ribuan bahkan mungkin jutaan informasi masuk dalam genggaman kita, mungkin objeknya sama tetapi kemasan dan analisisnya beda. Maka yang terjadi adalah kebingungan bahkan kadang-kadang kita menjadi sulit membedakan mana yang benar dan salah. Wajar, saat ini di negeri yang tercinta ini masih ada sekelompok masyarakat yang hobinya memberi stempel dan fitnah terhadap kelompok lain hanya kerena informasi dari media sosial tanpa tabayyun dan juga kirtisisme.

Sikap kritis dan skeptis ini tentu tidak bisa tiba-tiba ada dalam jiwa manusia, perlu latihan bahkan melalui proses yang tidak pendek. Dan tentunya sekolah memiliki peran yang sangat vital untuk soal ini. Bayangkan, ketika pendidikan kita masih didominasi dengan model pengajaran hanya berbicara fakta, rumus, tanggal, tempat dan kejadian. Ini tak ubahnya seperti memasukkan koin pada sebuah celengan. Celengan hanya akan bunyi “cring, cring” tanpa bisa melawan, berapapun koin yang dimasukkan si celengan tak akan pernah bisa protes. Jika pendidikan masih bermodel seperti ini, maka wajarlah keluar masyarakat atau generasi yang “terlihat” sangat mahir dalam menggunakan media sosial tetapi kosong jiwa kritisnya.

Maka, pendidikan saat ini harus melatih anak-anak untuk selalu menggunakan pendekatan sainstifik, yang paling mendasar adalah, tentu membaca, memverifikasi, membandingkan, menganalisis dan terakhir membuat terobosan-terobosan atas masalah. Rasanya, jika sekolah mampu meyuguhkan layanan pendidikan seperti ini, pasti di waktu mendatang anak-anak akan menjadi generasi yang kuat dan kritis, mereka lentur terhadap perubahan tetapi selalu kritis juga terhadap perubahan.

Berikutnya jiwa yag perlu diisi adalah kerjasama, bayangkan dengan dunia semakin menyempit dalam konteks kekinian. Sementara dengan adanya teknologi terasa kita minim interaksi. Interaksi yang tercipta saat ini hanya mekanik, bukan humanis. Sehari-hari anak-anak kita selalu memegang tablet atau komputer, bahkan orang tuanya pun demikian. Antara anak dan orang tua pun semakin menjauh, sudah sibuk dengan aktivitas bekerja ditambah ketika ketemu pun selalu masih berpegangan gadget. Betapa meneyedihkan kondisi anak-anak kita.

Dalam keadaan seperti ini, rasanya menjadi sangat penting bagaimana melatih dan menanamkan kepada anak-anak, bahwa kita tidak mungkin hidup sendiri. Setiap pengajaran dalam kelas harus memberikan ruang yang lebih dengan menggunakan pendekatan kerjasama atau kolaborasi. Dengan cara ini, anak-anak akan bisa memahami bahwa mereka harus berinteraksi sejajar dengan teman-teman maupun dengan guru-gurunya.

Terkait dengan IT dan juga media sosial, banyak hal yang dapat dijadikan sebagai salah satu strategi menanamkan sikap kolabortif ini. Contoh yang paling nyata saat ini, bagimana Google mencoba memberikan model pembelajaran bagi anak-anak untuk bisa kerjasama dalam sebuah proyek. Dan tentunya masih banyak vendor-vendor lain memberikan layanan serupa. Artinya, menanamkan kerjasama diantara anak-anak tidak harus meninggalkan bahkan secara ekstrim harus membuang ganget mereka. Nyatanya, saat ini tidak mungkin anak-anak terlepas dari soal gadget, yang diperlukan adalah pengaturan dan juga tata cara menggunakan lebih baik.

Yang terakhir mengisi jiwa dengan kreativitas. Sudah terlalu banyak bukti bagaimana media sosial dan IT ini memberikan sumbangsih ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat. Orang-orang dikampung mampu menhasilkan omset ratusan juta perbulan, hanya karena mereka mampu memanfaat facebook untuk promosi barang-barang kerajinan yang dibikinya.

Mestinya sekolah menjadi lahan basah bagi anak-anak untuk dididik menjadi keratif. Anak-anak idenya selalu tak terbatas, dan seringkali tidak pernah kita duga. Maka tinggal bagaimana seorang guru harus memberikan jalan dan ruang yang baik bagi mereka untuk menuangkan ide-ide besarnya. Ide meraka dapat dituang dalam blog, atau jika dalam bentuk barang mereka dapat menjualnya melalu media sosial yang dimiliki.

Jika sudah seperti ini, rasanya main game dalam gadget itu hanya pengisi waktu senggang saja, selebihnya pegang gadget adalah untuk sesuatu yang produktif, bahkan sangat mungkin akan mampu menginspirasi banyak orang nantinya. Mari kita coba bersama untuk anak-anak kita. Amin. @edislatem12

 

Friday 5 September 2014 13:27 Bookmark and Share