Articles » Memahami Kembali Keberagaman Anak-Anak Kita

by Edi Slamet

Seorang kawan menceritakan anaknya yang selalu mengeluh dan tidak berminat sekolah kembali karena teman-teman di sekolahnya mengatakan “goblok” kepada anaknya hanya karena tidak bisa mengerjakan matematika. Mungkin juga, kejadian ini pernah kita alami waktu kita masih sekolah sebelumnya baik di tingkat sekolah dasar maupun sekolah lanjutan.

Armstrong –salah satu ahli multiple intelligencies- pernah berujar, jangan pernah kamu ajari burung untuk berenang, ikan untuk terbang, maka yang ada burung akan kehilangan kemampuannya untuk terbang, dan ikan tidak akan mampu berenang kembali. Artinya, bahwa setiap individu telah memiliki kecenderungan dan gaya yang berbeda-beda. Maka, vonis-vonis terhadap anak seperti kawan tadi sangat lah tidak dibenarkan.

Demikian juga anak-anak, mereka dilahirkan dengan segala kesempurnaan yang diberikan Tuhan, dan juga dengan lautan potensi yang berbeda-beda. Yang tentunya tidak sama satu dengan yang lainya.

Sering kita melihat dan merasakan teman-teman waktu sekolah, yang matematika maupun IPA nya diatas rata-rata, ternyata kehidupan mereka tidak lebih baik dari pada teman yang lain. Bahkan, sering kita jumpai, teman bermain kita, sering dapat julukan“nakal”, “bodoh” dan sebagainya, ternyata diantara mereka banyak juga, telah menjadi pengusaha yang sukses, pimpinan perusahaan besar, bahkan menjadi seorang ulama.

Ini membuktikan yang sebelumnya disebut cerdas hanya terbatas pada anak-anak yang dapat nilai baik dalam hal matematika dan sains saja, tetapi pada kenyataan saat ini bukti-bukti bahwa kecerdasan hanya sesempit itu sudah bergeser dan menjadi lebih luas. Pandangan ini diwakili oleh Howar Gardner yang memberikan gambaran anak-anak atau setiap inividu memiliki kecerdasan yang beragam, paling tidak; kecerdasan logis dan matematik, linguisitik, kinestetik, intrapersonal, interpersonal, spasial, musical dan natural.

Implikasi teori ini tentu akan sangat besar, pertama, tidak mungkin anak-anak yang memiliki kecerdasan berebeda kemudian di perlombakan atau diadu dengan ukuran sama. Artinya, apakah mungkin anak-anak dengan kecerdasan musical lebih baik versus anak-anak yang kinestetiknya dominan diadu lomba bermain piano, ataupun sebaliknya dengan lomba bermain sepak bola. Maka, yang mungkin adalah mengadu dengan level kecerdasannya sama atau setidaknya mirip.

Kedua, dengan paradigma ini maka penilaian dalam belajar pun juga harus tidak sama, penilaian harus menekankan pada proses bukan pada hasil, ini yang disebut ountentik assessment. Anak yang starting point kemampuan menghitungnya 1 dan teman kelasnya yang sudah di level 5 kemudian dalam proses belajar yang pertama memiliki hasil akhir 5 sementara yang kedua adalah 7, maka yang harus mendapatkan nilai lebih baik adalah anak yang pertama.

Implikasi yang ketiga adalah, setiap insan pendidik tentu harus memahami segala potensi yang dimiliki oleh anak-anak didiknya, artinya pemetaan terhadap kecerdasan anak-anak menjadi penting. Sehingga, pendekatan dalam mengajar juga akan sangat beragam, tidak mungkin anak-anak yang memiliki kecerdasan kinestettik yang tinggi, akan mampu menyerap pembelajaran dikelas dengan model ceramah, yang lebih sepadan dengan kondisi anak ini adalah belajar yg menggunakan media gerakan tubuhnya dan moving class, karena dengan gerak dan selalu aktif memuat anak seperti ini lebih nyaman dengan dirinya. Begitu juga anak-anak yang kecerdasan naturalnya lebih tinggi, akan lebih mudah menerima pembalajaran apapun ketika di luar ruangan dan bersanding dengan alam sekitar dan lingkungan. Dengan kondisi yang sedemkian rupa, guru dituntut memiliki pemahaman komprehensif terhadap metode pengajaran yang beragam yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak di dalam kelas.

Keempat, untuk orang tua tidak perlu memakasakan diri untuk berfikir seperti dirinya kepada anak-anaknya. Sejalan dengan ungkapan Imam Ali “didiklah anak-anakmu untuk waktu yang tidak sama denganmu”. Karena potensi dan kecerdasan anak berbeda-beda, kita sebagai orang tua mesti membekali diri anak-anak kita dengan cara-cara yang berbeda. Semua tidak akan pernah tahu masa depan seperti apa, tetapi kita tahu bahwa dengan keaneka ragaman dan penyelesaian masalah dengan baik, membuat anak-anak akan mampu survive, dan inilah yang disebut Rhenald Kasali sebagai kurikulumnya orang tua.

Penting bagi kita bersama dengan potensi anak yang beragam dan kondisi zaman yang semakin tidak terprediksi, bergandengan tangan untuk membuat anak-anak kita menjadi kokoh dan mampu menyelesaikan diri sendiri syukur-syukur untuk lingkungan sekitar. Tidak terbatas pada sekolah tetapi juga orang tua dan masyarakat pada umumnya, memberikan tempat yang layak atas heterogenitas anak-anak, sehingga anak-anak tumbuh menjadi insan yang bahagia dan memiliki akhlaq mulia. Wallahu a’lam @edislatem12

Tuesday 21 January 2014 22:34 Bookmark and Share