FAQ Lazuardi

Frequently Asked Question (FAQ) tentang 
Kurikulum Lazuardi dan Penerapannya

Tentang Beban Kurikulum

Lazuardi meminimumkan beban kurikulum hingga sebatas yang benar-benar diperlukan, sejalan dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yakni mempersiapkan para siswanya untuk menjadi orang-orang yang sukses dan sejahtera secara fisik, mental, dan spiritual. Dengan kata lain, membekali mereka dengan life skills -- sebagaimana dicanangkan oleh Kurikulum Nasional berbasis Kompetensi.

Bagi Lazuardi, unsur-unsur life skills itu mencakup

  • Kecintaan kepada ilmu pengetahuan
  • Keterampilan belajar (mencari ilmu)
  • Keterampilan berkomunikasi, dalam berbagai bahasa khususnya bahasa Indonesia dan Inggris secara lisan, tertulis, maupun dengan mempergunakan tools lain, seperti komputer, audio-visual, dsb.
  • Kepercayaan diri
  • Akhlak mulia
  • Kepekaan Sosial
  • Penghargaan kepada lingkungan hidup

 

Penetapan mata pelajaran, tema-tema, dan topik-topik bahasan dilakukan dengan sepenuhnya mengacu kepada kebutuhan akan penanaman life skills tersebut di atas. Yang tidak sejalan dengan itu, meski masuk dalam Kurikulum Nasional, akan dihilangkan. Sementara yang perlu, dan belum tersedia, akan ditambahkan.

Dalam penyususnan kurikulum, Lazuardi juga belajar dari dan mengakomodasikan unsur-unsur yang baik dari berbagai pendidikan lain, baik di dalam maupun di luar negeri.

Tentang Keketatan Standar Pencapaian

Meski menyederhanakan beban kurikulum, sama sekali tak berarti bahwa Lazuardi hendak mengendorkan standar pencapaian atau prestasi siswa. Sebaliknya, pengurangan beban tersebut dilakukan justru agar tersedia cukup waktu dan sumberdaya untuk mencapai tingkat pencapaian maksimum dalam bidang-bidang yang menjadi sasaran pendidikan di Lazuardi seperti tersebut di atas. Tegasnya, Lazuardi menetapkan dan mengejar tingkat tertinggi pencapaian para siswanya.

Tentang Ketiadaan Tes Masuk dan Observasi

Ketiadaan tes masuk sama sekali tak ada hubungannya dengan standar prestasi yang hendak dicapai. Tes masuk ditiadakan karena sedikitnya 2 alasan :

  • Agar tak ada diskriminasi berdasar kemampuan akademik anak. Menurut keyakinan para pendiri Lazuardi, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik. Bahkan Lazuardi menerima siswa yang memiliki kebutuhan khusus yang sesungguhnya secara potensial dapat menghambat perkembangan kegiatan belajarnya.
  • Kedua, Lazuardi percaya bahwa sekolah yang baik adalah yang dapat mengembangkan potensi siswanya, seperti apa pun kesiapan-akademiknya, menuju kehidupan yang sukses da sejahtera.

 

Sebagai ganti tes masuk, Lazuardi mewajibkan para siswanya yang telah diterima semata-mata on first come first served basis untuk mengikuti observasi. Observasi ini dilakukan semata-mata untuk mengumpulkan informasi akan kesiapan, kelebihan, dan kekurangan siswa agar dengan demikian bisa dirancang kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing siswa tersebut.

Lazuardi juga menerapkan sistem remedial untuk siswa yang terlambat, dan pengayan untuk siswa yang memiliki kelebihan di bidang-bidang tertentu.

Tentang Fun Learning, Suasana Demokratis, dan Disiplin

Meski sepenuhnya percaya bahwa para siswa akan belajar paling baik dalam suasana nyaman, fun, dan demokratis, Lazuardi juga percaya pada keharusan menegakkan disiplin di kalangan para siswanya. Menciptakan lingkungan yang nyaman, fun, serta demokratis merupakan suatu hal, sedang penegakan disiplin adalah hal lain. Bahkan, pendekatan belajar-mengajar yang fun dan demokratis justru lebih membutuhkan disiplin yang ketat agar tidak terjadi chaos.

Pendisiplinan siswa dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sedapat mungkin ditetapkan sebagai konsensus dengan para siswa sendiri adil, serta tidak merusak harga diri dan kepercayaan diri siswa. Di sini perlu dikembangkan apa yang biasa disebut sebagai disiplin positif.

Tentang Hafalan

Hafalan dibatasi (diminimumkan) hanya pada hal-hal yang tak bisa tidak memang harus dihafal, seperti contohnya aritmatika, bacaan shalat dan doa-doa, dan sebagainya. Selebihnya hafalan tidak diperlukan. Jika seorang siswa sudah memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan, dan tahu caranya mencari ilmu, maka keberadaan alat-alat teknologi (menyimpan dan mencari) informasi seperti komputer, internet, yang di masa-masa yang akan datang akan menjadi lebih praktis, kecil, ringan, powerful, dan affordable sudah cukup untuk menggantikan fungsi hafalan, sekaligus dalam terus meng-update wawasan dan pengetahuan.

Hal ini mengingat, bahwa cepatnya perubahan zaman, akan banyak bahan yang telah dihafal kehilangan relevansinya (kedaluwarsa, obsolete) ketika anak-anak menjadi dewasa. Belum lagi jika kita sadari bahwa banyak bahan yang dihafal kenyatannya mudah terlupa

Tentang Pekerjaan Rumah

Pekerjaan rumah yang menyita waktu siswa untuk kegiatan bermain, bersosialisasi dengan keluarga, dan kegiatan-kegiatan tambahan di luar sekolah, serta membebani juga diminimumkan. Meski demikian, tetap diperlukan pekerjaan rumah untuk pelajaran-pelajaran yang memerlukan banyak latihan (drill) seperti membaca, menulis, matematika dan kegiatan-kegiatan (projects) yang membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar sekolah, wawancara, penelitian, dan sebagainya.

Namun, kapan saja dimungkinkan, hendaknya PR-PR tersebut juga mengandung unsur yang menyenangkan bagi siswa sehingga tak terlalu menambah beban dan tingkat stres siswa (kadang-kadang juga keluarganya).

Tentang Penerapan Bilingual Teaching

Bilingual Teaching, yakni penggunaan Bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia sebagai medium pengajaran, dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan siswa dan guru. Program ini dimulai pada tahun ajaran 2003/2004. Penerapan program ini secara relatif penuh dimulai dengan kelas I SD pada tahun ajaran itu dan berlanjut untuk kelas-kelas I pada tahun-tahun setelah itu. Sehingga,diharapkan, program bilingual ini bisa diterapkan dengan penuh pada tahun ke-6 setelah pencanangannya (Tahun ajaran 2009/2010). Pemilihan kelas I ini terutama diambil karena sebagian besar siswa kelas I adalah lulusan TK Lazuardi yang relatif sudah lebih siap. Meskipun demikian, di kelas-kelas lain metode bilingual juga diterapkan sesuai kesiapan siswa.

Tentang Text Books dan Bahan Ajar

Karena tak sepenuhnya mengikuti Kurikulum Nasional, maka Lazuardi juga tak sepenuhnya menggunakan text books yang dibuat berdasar kurikulum Nasional tersebut. Saat ini SD Lazuardi mempergunakan buku yang dipakai di sekolah Singapura (Seri My Pals) karena sejauh ini diangap paling sesuai dengan kurikulum khas Lazuardi. Selain itu, digunakan juga handouts yang dikembangkan sendiri oleh para guru. Secara bertahap diharapkan kumpulan handouts akan menjadi bahan ajar utama di Lazuardi.

Juga, terbuka kemungkinan di waktu-waktu yang tepat digunakan text book pendukung lain, bisa dari Eropa, atau Amerika, atau dari negara-negara lain, atau bahkan dari dalam negeri juga. Penggunan text books berbahasa Inggris diharapkan juga dapat lebih mendukung program bilingual teaching.

Tentang Tes dan Ujian

Bahan-bahan untuk keperluan penilaian (assesment) dan ujian (examination) dipilih yang sepenuhnya sejalan dngan kurikulum khas Lazuardi. Kecuali dalam bidang-bidang tertentu yang memang membutuhkan hafalan seperti disinggung sebelumnya penilaian dan ujian diarahkan untuk menilai pemahaman dan penguasaan siswa atas dasar-dasar ilmu dan wawasan umum, bukan hafalan-hafalan.

Penilaian juga tak hanya mengambil bentuk tes tertulis, melainkan juga tes praktik maupun kenyataan praktik sehari-hari siswa dalam kehidupan sekolah, sesuai dengan sifat kemampuan yang diharapkan dari siswa apakah kognitif, afektif, atau psikomotorik.

Bobot penilaian antara tes tertulis, tes praktik, dan kenyataan praktik sehari-hari untuk masing-masing bidang pelajaran bisa bervariasi tergantung pada jenis kemampuan yang diharapkan tersebut. Misal, pada tes olah raga, nilai tes praktik akan jauh lebih besar dari nilai tes tertulis, demikian juga mengaji dan melakukan ibadah-ibadah ritual. Dalam bidang akhlak, kenyataan praktik sehar-hari siswa diberi bobot paling besar.

Tes diselenggarakan terutama untuk meng-endorse penguasan siswa, dan mendapatkan feed back bagi kegiatan belajar-mengajar (baik untuk sekolah, guru, maupun siswa sendiri), dan bukan untuk menghukum.

Tentang Kesiapan Siswa Menghadapi Standar non-Lazuardi (Ujian Akhir, Ujian Masuk ke Jenjang Lebih Tinggi, dan Jika Siswa Pindah Sekolah di Tengah Jalan)

Untuk menghadapi ujian akhir atau ujian masuk ke jenjang yang lebih tinggi, Lazuardi menyediakan waktu khusus dan secukupnya (sedikitnya satu semester terakhir) menjelang ujian-ujian tersebut untuk men-drill para siswa dengan unsur-unsur kurikulum nasional yang tidak tercakup dalam kurikulum khas Lazuardi dalam semacam bimbingan tes in house. Penyediaan waktu ini dapat dimungkinkan mengingat kurikulum khas Lazuardi bisa diselesaikan lebih cepat sehubungan dengan pengurangan beban kurikulum nasional yang dilakukannya.

Berdasar pengamatan Lazuardi, ujian-ujian terstandardisasikan yang bersifat nasional dan masih berorientasi kurikulum model tradisional akan makin kurang kepentingannya. Ujian akhir SD sudah dihilangkan, kemungkinan besar juga SMP, bahkan SMA. Kalau pun ada, fungsinya akan diarahkan sebagai alat untuk mendapatkan feed back bagi pemerintah mengenai kualitas umum pendidikan nasional kita.

Ujian masuk sekolah pun kemungkinan akan lebih berorientasi kepada aptitude test yang menguji kemampuan dasar dan umum, yang tak membutuhkan penguasaan mendetil dan hafalan terhadap suatu spektrum luas tema-tema dan topik bahasan. Yakni semacam SAT (Standard Aptitude Test) dan GRE (General Record Examination) yang selama ini sudah diterapkan di negara-negara maju. Kecenderungan ini sudah mulai terlihat dalam tes masuk PT-PT berkualitas di negeri kita, seperti ITB, UGM, IPB, dan sebagainya. Diduga kecenderungan seperti ini akan makin nyata di masa-masa mendatang.

Dalam hal siswa terpaksa harus pindah sekolah di tengah jalan, diharapkan orang tua dapat mencarikan sekolah yang memiliki kesejalanan dengan konsep Lazuardi. Atau, kalau tidak, diharapkan keterampilan belajar siswa yang telah ditanamkan di Lazuardi dapat membantu anak mengejar tema-tema bahasan yang belum dikuasainya.

Tentang Kaidah Semua Anak Naik Kelas

Lazuardi menganggap sebagaimana sistem yang diterapkan di negara-negara maju, siswa harus menempati jenjang pendidikan berdasar usianya. Membiarkan anak tetap tinggal di kelasnya yang lama karena kurangnya prestasi akademik, lebih banyak merugikan siswa ketimbang menguntungkan. Hal seperti ini lebih sering merusak self confident siswa, mencerabutnya dari jaringan-sosialnya, dan dengan demikian tidak banyak membantu membangkitkan semangatnya. Yang sering terjadi, anak yang tinggal kelas akan terus mundur prestasinya. Yang lebih diperlukan adalah program remedial dan upaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa yang mundur. Khususnya untuk jenjang-jenjang pendidikan rendah, keberhasilan siswa masih amat tergantung dan lebih merupakan tanggung jawab guru dan sekolah.

Siswa dapat saja tidak dinaikkan kelas karena alasan-alasan yang amat khusus, umumnya terkait dengan persoalan sikap, misal banyak melanggar kedisiplinan dan aturan sekolah sering tidak masuk sekolah ditambah kurangnya perhatian orang tua, atau karena alasan-alasan lain yang dapat diterima. Namun, sebelumnya sudah harus dilakukan peringatan dan diambil tindakan-tindakan seperlunya. Keputusan untuk tak menaikkan kelas harus mendapatkan approval dari Direktur Sekolah.

Tentang Nilai Penting Membaca dan Menulis

Perlu penekanan khusus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis siswa. Karena, kegiatan membaca dan menulis sudah disepakati amat sentral dalam menentukan kesuksesan, sekaligus menunjang pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Membaca bukan saja menambah ilmu dan wawasan yang makin krusial dalam lingkungan yang berubah secara amat cepat melainkan juga dapat meningkatkan daya tahan (resilience. Adversity Quotient), sekaligus juga memiliki unsur eksistensial dan terapeutik. Menulis adalah medium ekspresi dan komunikasi, serta memiliki juga unsur terapeutik. (Dalam hubungannya dengan kegiatan menulis ini, kegiatan membaca juga memiliki peran yang amat menetukan). Sepintar apapun dan seluas apa pun wawasan seseorang, kesemuanya itu tak akan banyak berguna jika tak terkomunukasikan.

Tentang Prinsip Pendidikan Inklusi

Lazuardi percaya bahwa setiap anak dapat didik untuk hidup sejahtera dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Di sisi lain, Lazuardi juga percaya bahwa anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (special needs) akan terdidik dengan cara paling baik jika diakomodasi dalam sebuah pendidikan umum bersama anak-anak yang tak memiliki kebutuhan khusus. Menempatkan anak-anak seperti ini dalam suatu pendidikan khusus, meski mungkin lebih praktis, hanya akan mempersempit dunianya, dan memperkecil ruangnya untuk belajar lebih banyak dari dunia yang lebih luas. Sekaligus juga lebih memungkinkan mereka untuk memola cara-hidup mereka sesuai dengan cara hidup orang-orang yang tak memiliki kebutuhan khusus pada umumnya.

Meski demikian, Lazuardi juga menyadari bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini memerlukan sebatas tertentu terapi untuk mengatasi atau mengurangi hambatan akibat kebutuhan-kebutuhan-khusus mereka tersebut. Karena itu, Lazuardi juga menyediakan kelas khusus dengan nama Kelas Pelangi untuk menyelenggarakan terapi-terapi tambahan seperti itu. Sejalan dengan itu, Lazuardi juga mempekerjakan terapis-terapis yang ahli di bidangnya untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ini.

Pada praktitknya, keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini ternyata juga memberikan dampak positif pada anak-anak lainnya. Yakni, dalam bentuk tumbuhnya kasih sayang dan rasa pengertian kepada teman-teman spesial mereka ini. Secara tidak langsung, hal ini menjadi semacam medium pendidikan emotional intelligence (khususnya aspek interpersonal intelligence), yang terbukti akan amat bermanfaat bagi kesuksesan hidup mereka kelak,

Tentang Pengajaran Agama

Pengajaran agama di Lazuardi, selain dimaksudkan untuk memberikan keterampilan menjalankan ibadah, diarahkan terutama untuk menanamkan akhlak mulia kepada para siswanya. Karenanya, orientasinya lebih kepada ranah afektif (sikap) dan psikomotorik praktis), ketimbang kognitif.

Selain itu, pengajaran juga diarahkan kepada penghayatan agama yang bersifat terbuka dan progresif, yakni sejalan dengan kemajuan dan kebutuhan zaman, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama. Termasuk di dalamnya toleransi inter dan antaragama, yakni toleransi kepada berbagai kelompok di lingkungan persaudaraan Islam, maupun kepada masyarakat beragama lain.